Selasa, 01 Desember 2009

Tidak Cukup Sekedar Istigfar

Kita seringkali terlupa dengan hukum keseimbangan, yang pada intinya mengajarkan kepada kita, bahwa hasil yang kita nikmati itu, sesuai dengan upaya yang kita lakukan. Atau bahasa terangnya, barang siapa yang rajin belajar, maka dia akan menjadi pandai; dan barang siapa yang malas belajar, maka ia akan tetap bodoh. Semakin keras seseorang belajar, maka akan semakin luas wawasannya.

Hal senada dengan itu, mestinya berlaku juga. Yaitu, tidak ada amal yang ringan pelaksanaanya, diganjar dengan pahala yang sangat besar. Mungkin kita terlalu berharap dapat menukar suatu pekerjaan kecil dengan pahala yang besar, karena kita tahu bahwa Allah itu adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pengharapan seperti itu, ada bahayanya. Karena, boleh jadi kita merasa seolah-olah sudah memperoleh banyak pahala, padahal sebenarnya tidak, sehingga kita terlena atau lengah untuk meningkatkan kualitas ibadah kita kepadan-Nya. Misalnya saja, kita diajarkan bahwa selama kita mau bertobat, maka Allah pasti akan mengampuni kita. Karena itulah para ulama menyuruh kita agar sering-sering mengucapkan istigfar, memohon ampun kepada-Nya. Yang menjadi pertanyaan, benarkah itu menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan? Apakah hanya dengan mengucapkan istigfar yang sangat mudah itu, Allah lalu akan menghapus dosa-dosa kita? Marilah kita lihat bagaimana cara menghapus dosa menurut Rasulullah Saw.

Pada suatu ketika, Rasulullah Saw bertanya pada para sahabatnya, "Tahukah kalia, siapakah orang yang dianggap bertobat itu?" Para sahabat serentak menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."Maka Rasulullah Saw pun bersabda :

"Barang siapa bertobat tetapi tidak menambah ibadahnya, ia bukanlah bertobat"

"Barang siapa bertobat tetapi tidak mengubah perilakunya, ia bukanlah bertobat"

"Barang siapa bertobat tetapi tidak mengganti temannya, ia bukanlah bertobat"

"Barang siapa bertobat tetapi tidak menuntut ilmu, tidak membuang sikap riya', tidak menyedekahkan kelebihan yang dimilikinya, ataupun tidak meminta maaf kepada orang yang pernah disakitinya, ia bukanlah bertobat"

Para Khalifah Allah yang berbahagia, dari apa yang disampaikan Rasulullah Saw tadi, nampaknya ucapan istigfar saja belum cukup untuk mendapatkan pengampunan dari Allah. Bayangkan apa jadinya kelak, bila kita merasa bahwa dosa kita sudah lebur karena sering istigfar, padahal sebenarnya tidak!

Memang nampaknya tidak ada cara lain untuk mendapatkan surga selain berjuang keras dalam beramal saleh yang diridhoi-Nya. Mari kita hidupkan semangat jihad, untuk memerangi nafsu dan setan yang selalu berusaha mengajak kita pada kemalasan beramal saleh. Semoga kita mampu menanamkan dalam jiwa kita masing-masing nasihat Nabi kita yang mulia :

"sabar dari menahan nafsu itu berat, tetapi menahan siksaan neraka itu, jauh lebih berat daripada menahan nafsu"


disadur dari buku "Sentuhan Kalbu Melalui Kultum"